KATA PENGANTAR
BISMILLAHIROHMANIROHIM
Alhamdulillahirobbilalamin, wassolatuwassalamu
alal mursalin saiyyidina Muhammadin, waala alihi wasohbihi ajma’in.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah senantiasa memberikan rahmat dan
taufik hidayah-Nya kepada kita semua. Selawat berangkaikan salam semoga tetap
tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammd SAW yang telah membawa risalah
Dinul islam untuk perbaikan dunia dari sebuah zaman yang kita kenal hitam dan
gelap sampai zaman yang terang benderang
seperti yang kita rasakan ini.
Buku ini berjudul Seven
Touches Hearts yang berarti 7 Sentuhan hati yang akan menggugah Hati
kita semua dan akan mengajak Anda semua untuk berpikir seberapa besar fungsi
dan kapasitas Hati dalam membimbing kita ke arah keluasan berpikir dan berjuang
tentang tujuan hidup yang sesungguhnya, bahwa apa yang selama ini kita ketahui,
kita rasakan, kita harapkan dan kita pilih tak terlepas dari sentuhan Hati yang
menakjubkan.
Karena Hati adalah Raja
Bagi Tubuh, Jika baik ia
maka baiklah seluruh amal perbuatannya dan jika Ia jelek maka
akan jeleklah seluruh amal perbuatannya. ( HR. Bukhori Muslim)
Dalam penulisan buku ini disana sini pastilah
mempunyai banyak kekurangan oleh sebab itu saya sebagai penulis mohon kiranya
kirik dan sarannya demi perbaikan selanjutanya.
Dan hanya kepada Allah saya mohon ampun atas segala
kekhilafan dan kesalahan, kiranya semoga
buku ini dapat bermanfaat bagi saya dan kita semua yang membacanya. Dan
semoga Allah meridhoi setiap langkah jalan baik kita, amin ya robbal alamin.
Pematangsiantar
2012 Penulis
Muliadi, SPdI
PENDAHULUAN
Hati
adalah raja bersih dari lahirnya itulah fitrah yang kuasa yang diberikan Allah
kepada setiap manusia.
Hati
identik dengan Keyakinan karena keyakinan yang sesungguhnya adalah bersumber
dari suara hati, bisikan suara hati yang benar akan menjadikan nilai- nilai
keimanan yang akan memperkuat terhadap sesuatu yang kita imani. Karena Iman
adalah sebuah anugrah terindah yang
dianugrahkan Allah kepada kita semua. Dalam penjelasan para ulama dalam
mendefenisikan iman berbeda- beda. Yang
pada dasarnya adalah sama yaitu sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap
itu mempunyai dampak baik terhadap diri yang memberikan sebuah nilai
spritualitas dalam kehidupannya. Kemudian dengan keyakinan yang kuat itu
muncullah ide untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dan berusaha
mengamalkan apa yang diyakininya itu.
Dalam
konsep islam banyak dijelaskan didalam Alquran tentang arti iman, berkenaan
dengan apa yang kita yakini penulis sedikit akan membahas tentang kapasitas
iman dalam menunjang proses keberhasilan manusia, baik didunia maupun diakhirat
kelak. Iman adalah percaya, percaya disini bukanlah sekedar tahu atau yakin dengan apa yang kita ketahui,
namun yakin dengan apa yang kita usahakan , yakin dengan apa yang kita lakukan
, yakin dengan apa yang kita imani yang bersumber dari hati bahwasnya semua itu
akan berhasil jika kita benar- benar melakukannya. Jika kita tidak yakin dengan apa yang kita lakukan
ataupun kita usahakan maka apapun itu pasti tidak akan pernah berhasil.
Ada satu hal yang perlu kita perhatikan
bersama bahwa sesungguhnya setiap langkah usaha yang kita lakukan adalah sebuah
proses saja untuk mencapai keberhasilan itu, namun apabila tidak dibarengi
dengan iman ataupun tidak diyakini dengan
hati yang kokoh maka tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam
pembahasan ini juga akan kita dapati bahwa ternyata iman itu tidak luput dari
rasa percaya diri. Manusia adalah insan yang berakal yang diberikan Allah
kemampuan yang sangat luar biasa namun karena keegoisannya bisa mengakibatkan
tidak munculnya iman seseorang tersebut.
Coba mari kita lihat disekeliling kita
berapa banyak orang yang kita anggap tidak mempunyai iman. Sebenarnya bukan tak
ada iman dihati mereka namun karena tertupnya hati mereka disebabkan perbuatan-
perbuatan mereka yang menjauhkan mereka dari nilai- nilai kebaikan itu sendiri.
Bahkan seorang ateis sekalipun pasti mempunyai iman terhadap apa yang dilihat
dan dirasakannya di alam semesta ini.
Sebuah dilema yang sering kita hadapi
dalam menjalani hidup ini adalah dilema “ kebimbangan ’’. mengapa demikian?
Karena memang kita selalu bimbang ketika dihadapkan dengan pilihan- pilihan
yang ada . dan pilihan itu benar- benar membutuhkan keyakinan dan iman yang
kuat dari hati yang paling dalam untuk menentukannya. ” Sebuah kisah yang
sangat menarik yang ingin saya paparkan adalah sebuah cerita dari negri bagdad
yaitu seorang ulama yang kocak dan juga dikenal sebagai ulama sufi yang bernama
Abu Nawas. Ceritanya begini “ pada saat ketika ayahnya akan meninggal, ayahnya
memberikan pesan kepada Abu Nawas yang pada saat itu Ayahnya masih sakit.
Ayahnya memanggil, hai Abu Nawas kemarilah!
Abu Nawaspun datang menghampiri Ayahnya, kemudian Ayahnya berkata: cobalah kau
cium telinga Ayah yang kanan, kemudian Abu Nawas pun mencium telinga Kanan
ayahnya, setelah itu ayah nya berkata lagi: sekarang kau coba cium lagi telinga
kiri ayah ini, dan Abu Nawaspun menciumnya
lagi. Kemudian ayahnya berkata; sudahkah
kamu tahu bau dari keduanya?? Sudah ayah jawab Abu Nawas, kalau telinga
kanan berbau harum sekali sedangkan telinga kiri baunya seperti bau busuk.
Tahukah kamu mengapa bisa demikian? Tidak
ayah, Abu Nawas pun bingung!!. Ayahnya pun lalu menjawab Begitulah kalau
menjadi seorang hakim yang tidak adil, selalu mendengarkan pengaduan dari kedua
pihak tentang suatu perkara, yang kalu kita hanya mendengarkan yang sebelah
pihak saja tanpa mau mendengarkan keluhan pihak yang lemah, maka beginilah
jadinya. Maka jika kamu tidak mau menjadi seperti ayah ini carilah alasan supaya kamu tidak diangkat oleh baginda raja
untuk menjadi seorang hakim. Disitulah Abu Nawas bisa mengerti kenapa jadi
demikian.
Akhirnya
abu Nawas pun mengambil keputusan dengan sebuah keyakinan yang mantab untuk
tidak menjadi penerus ayahnya yang menjadi hakim, dan dia berpura- pura menjadi
gila agar tidak diangkat oleh baginda raja untuk menjadi pengganti ayahnya.
Kembali
kita kepada seberapa penting iman dalam menunjang proses keberhasilan kita.
Iman identik dengan keyakinan. Oleh karena
itu dalam mencapai sebuah cita-
cita atau pun harapan maka terlebih dahulu kita harus yakin dengan apa yang kita capai itu. Dengan
sebuah kesabaran dan keuletan maka seiring itu
pula keyakinan akan tumbuh
menjadi satu kekuatan yang akan mendorong kita lebih menjadikan diri kita
percaya diri seperti yang dikatakan oleh
nabi Idris As. Ia Berkata dan
bernasihat dengan kata-kata mutiaranya :
1 . Kesabaran yang disertai iman kepada Allah
membawa kemenangan.
2 . Orang yang bahagia ialah orang yang berwaspada
dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.
3 . Bila
kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa maka ikhlaskanlah dan yakinkanlah niatmu
demikian pula puasa dan solatmu.
4 . Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu
berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak
menyekutui mereka dalam dosa.
5 . Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah
kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan
syukur dan puji kepada Allah.
6 . Janganlah
iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak
dan lama menikmati kebaikan nasibnya.
7 . Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak
sesuatu pun akan memuaskannya.
8 . Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya
seorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang
diperolehinya itu.
Sesuatu
dapat terjadi ketika kita meyakininya, Sesuatu tidak akan terjadi ketika kita
tidak meng imaninya , kehidupan bukan sekedar untuk hidup , tapi kehidupan
adalah sebuah proses untuk menjadikan kita lebih mengetahui untuk apa, dan mau
kemana kita.
Sebaik-
baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Jangan pernah hidup tanpa iman karena Anda
akan menjadi seperti buih dalam lautan. Tak tau kemana arah dan tujuan. Berbuat
kebaikan apapun yang bisa kita lakukan insya Allah sentuhan iman dari hati yang
bersih akan menyertai setiap langkah baik kita dalam mencapai apa yang kita
harapkan, Kekuasaan
dan Kemulyaan Allah tidak bergantung kepada banyak dan tidaknya orang yang
beriman, sebab keimanan akan kembali kepada manusia itu sendiri. Iman itulah
yang akan menyelamatkan manusia,
baik di dunia maupun di akhirat.
1
MENGAPA HARUS BERIMAN?
Pada bab pendahuluan kita telah mengetahui
apa itu iman, dan sekarang saya akan mengajak Anda untuk berpikir mengapa kita
harus beriman? Pertanyaan ini mungkin sedikit aneh, tapi pernahkah Anda
berpikir kenapa Anda harus beriman. Mungkin jawaban sederhananya adalah karena
kita percaya bahwa sesuatu itu benar dan dapat mendatangkan kekuatan kepada
kita yang dapat menyejukan hati kita. Yang jadi pertanyaan nya adalah sudah
seberapa besar keimanan kita tersebut terhadap apa yang kita percayai itu?.Dan
sudahkah kita Tanamkah dalam hati kita?
Iman adalah sebuah pengikraran dari lisan
manusia yang diyakini oleh hati nuraninya kemudian diaplikasikan oleh semua
anggota tubuhnya. Kalau kita mengaku beriman kepada Allah SWT yang kita ketahui
Dia adalah zat yang maha sempurna , su dahkah kita berikrar atas apa yang kita
yakini itu, atau sudahkah kita benar- benar yakin dari hati, atau sudahkah kita
amalkan ajaran- ajarannya? Kalau jawabannya belum . apakah kita dikatakan
beriman?. Apa yang senantiasa kita pikirkan dan rasakan. sebenarnya itu adalah
bagian dari iman seseorang , ketika kita merasakan sesuatu yang tidak biasa
mungkin Anda mengatakan bahwa itu suatu yang luar biasa,
Percaya
atau tidak semua yang ada di alam semesta ini berjalan karena adanya sebuah
proses antara ihsan, iman `dan sang maha pencipta. Semua yang terjadi yang pada
semua dinamika kosmik dialam semesta beredar menurut kekuasan yang digambarkan
oleh Sang Maha Sempurna kepada Anda dan
sekali lagi Iman lah yang telah berhasil ,mengupayakan kita untuk takjub akan
semua yang kita rasakan , kita nikmati, kita alami, di alam jagad raya ini. Itu
lah berkat dari sebuah sentuhan iman
yang di wahyukan Ilahi kepada setiap manusia. Gambaran sederhana yang bisa Anda
lihat yaitu seperti berikut:


Namun kenapa masih ada manusia yang tidak
percaya akan adanya Tuhan? Mengapa bisa demikian sehingga muncullah pertanyaan
dalam hati kita bahwa apa sebenarnya yang dicari manusia tersebut? Dan motif dibelakang semua itu
adalah karena adanya belenggu penutup
antara hati dan pemiliknya yaitu nafsu
,sehingga tidak ada rasa iman di hatinya untuk mempercayai yang Maha
Dahsyat tersebut. Kita sering menyebut mereka dengan faham ateis atau tidak
mempercayai adanya Tuhan .Mereka tidak percaya bahwa semua yang tercipta, semua
yang bergerak, dialam semesta ini ternyata ada yang mengaturnya.
Tidaklah mungkin semua itu terjadi tanpa
ada yang mengaturnya, dan sungguh tidak mungkin semua itu terjadi dengan sendirinya.
Yang jadi pertanyaan nya adalah dimana iman itu, tidak kah Tuhan menyiratkannya
di hati mereka?. Sebenarnya bukan tidak ada iman di hati mereka untuk percaya
akan semua itu. Namun disinilah perlu
kita pahami tersentuh atau tidaknya hati
mereka dengan apa yang telah mereka ketahui dan rasakan itu karena keegoisan
yang selalu dikedepankan dan ilmu pengetahuan yang tidak jelas dasarnya
sehingga pintu hidayahpun sulit teraih. Berangkat dari pemikiran diatas .coba
Anda berpikir sejenak bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Mengapa mereka tidak
percaya akan adanya Tuhan. Jawabanya tidak lain dan tidak bukan adalah karena
memang sudah tertutplah hati mereka dengan sentuhan- sentuhan iman, seperti
yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Yasin
“Sama saja bagi mereka diberi
peringatan atau tidak mereka juga tidak akan beriman.” ( QS. Yasin :36 : 10 )
Baiklah itu hanya sekedar gambaran bagi Anda tentang
proses keimanan manusia sekarang mari kita bahas tentang kapasitas iman dalam
menunjang keberhasilan hidup manusia . Ada sebuah ungkapan mengatakan “ hidup
tanpa iman seperti hidup didalam tanah yang tidak pernah terkena sinar matahari
maupun indahnya pelangi”. Seorang pemuda berjalan tanpa kenal arah terus berjalan dan
terus melangkah dia tidak tahu mau kemana ia sesungguhnya, tanpa kenal lelah ia
terus melangkahkan kakinya. Saat ia berhenti untuk beristirahat iya sempat
tertidur, didalam tidurnya ia bermimpi berjumpa seorang berjubah putih, dan
semua serba putih, kemudian orang itu berkata , mau kemana kamu nak? Ia pun
menjawab saya hanya mengikuti kemana langkah kaki hamba Tuan. Kenapa demikian ?
saya tidak tahu apa arti hidup ini, yang saya tahu hanya hidup untuk mati, dan
saat sekarang ini saya masih hidup. Kemudian seseorang itu bertanya lagi,
Apakah sebenarnya yang engkau cari ? itulah yang saya tidak ketahui jawab anak
itu. Seseorang itu berkata lagi: Hidup sebenarnya adalah sebuah proses awal
untuk hidup kembali, tujuan hidup didunia adalah untuk hidup dialam akhirat,
benar- benarlah hidup awalilah kehidupan dengan keiman yang kuat , dan lihatlah
betapa besarnya karunia Tuhan yang telah diberikan-Nya kepadamu , berpikirlah
untuk bisa benar- benar hidup.
Anak
muda tersebut tersentak lalu bangun dari tidurnya, lalu ia bergegas untuk
melanjutkan perjalannya, sambil berjalan ia berpikir tentang mimpi yang baru
saja dialaminya itu. Ia terus bertanya- tanya dalam hatinya, semakin ia
bergejolak dengan diri dan perasaannya. Akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa
benarlah apa yang diisyratkan dalam mimmpinya tersebut. Ia bangkit dari
kehidupannya yang begitu tak kenal arah, dan terus melakukan terobosan-
terobosan baru untuk memperbaiki hidupnya, mulailah iman mnyentuh hatinya dan
terus ia belajar dengan kesungguhannya untuk menemukan jati dirinya.
Berangkat dari cerita diatas mungkin
Anda bertanya- Tanya mengapa saya menceritakan demikian , sebenarnya itu adalah
bagian dari hidup saya yang dulu pernah galau, pernah resah bahkan tak kenal
arah untuk menghadapi hidup ini. Tapi Alhamdulillah pada akhirnya Allah telah
membing saya kearah yang benar.
Setiap manusia pastilah mempunyai
yang namanya masalah, tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah mengalami
masalah, baik itu orang kecil maupun orang besar, baik orang tak berada maupun
orang berada, baik orang awam maupun orang bangsawan, semakin besar kita maka
akan semakin besar pula persoalan- persoalan hidup yang akan kita hadapi. Yang
jadi pertanyaannya adalah sudahkah kita menyikapi masalah itu dengan benar?
Apakah kita termasuk orang yang putus asa dalam setiap menghadapi masalah?
Banyak kita lihat dimedia televisi, surat kabar, internet, majalah dan lain sebagainya,
tentang kasus bunuh diri, narkoba, frustasi dll, bahkan dinegara- Negara besar
seperti Amerika, Jepang, Inggris banyak sekali terjadi kasus bunuh diri. Kenapa bisa demikian? Jawaban sederhananya
adalah karena sentuhan iman tak melekat dihatinya.
Padahal
kalau dipikir secara ekonomi kehidupannya sudah diatas cukup, terus mengapa
bisa demikian? Sikap putus asalah yang telah menyebabkan manusia nekad untuk
melakukan hal- hal yang tidak wajar, tidak tahu bagaimana menyikapi sesuatu
masalah, tidak memakai logika yang ada hanyalah keputus asaan yang terus
memvaksinasi otak alam bawah sadar yang berdampak buruk terhadap prilaku, dan
sering kali mengambil keputusan yang salah, yang pada akhirnya akan mengambil keputusan
jalan pintas, seperti bunuh diri, mabuk- mabukan, narkobaan, frustasi dan
bahkan menjadi gilak.
Itulah
sebabnya kenapa kita harus beriman, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk
membentengi diri agar tidak terjerumus kedalam lembah kesesatan. Masalah bukan
untuk dihindari tapi untuk dihadapi, sebuah ungkapan penyair mengatkan “ bersyukurlah
pada kehidupanmu yang telah memberimu dahaga yang pedih kau rasakan. Karena
tanpa dahaga hatimu bagai air laut tanpa gelombang tak kenal surut maupun
pasang “(Kahil Gibran)
Hiasan
yang terlihat didepan mata kita adalah bentuk wujud dari sebuah eksitensi yang
pada dasarnya ia adalah sebuah benda yang tidak berharga, namun karena sentuhan
dari tangan- tangan yang berbakat jadilah ia sebuah hiasan yang tampak indah.
Begitulah manusia yang pada dasarnya adalah sebuah air yang hina kemudian
berproses didalam sebuah tempat yang kita namakan rahim, dan disinilah Allah
mulai menghiasi manusia dengan bentuk maupun sifat, yang pada akhirnya menjadi
manusia yang sempurna. Dan kesempurnaan itu terjadi apabila kita dapat meng
optimalkan apa yang telah di anugrahkan Allah itu kepada kita, yang akan
menjadikan kita mahluk yang mulia. Namun apabila tidak kita hiasi dengan sifat-
sifat kebaikan, dan sifat- sifat kemanusiaan maka akan samalah kita dengan mahluk Allah
yang lainnya.
Dalam
sebuah kajian historis bahwa Anda adalah mahluk yang paling menakjubkan dimuka
bumi ini, sebuah kajian yang bisa saya gambarkan dalam bentuk sederhana akan
kita lihat pada gambar berikut.
Dalam
pembagiannya ternyata otak manusia mempunyai tiga bagian yang masing- masing
mempunyai kekuatan dan potensi yang berbeda –beda. Yang apa bila kita dapat
mengoptimalkan, menyatukan ketiga bagian otak kita tersebut maka sudah pastilah
semua yang ada di jagad raya ini tidak mampu menandingi ciptaan Allah tersebut.
Kenapa bisa demikian? Ternyata Alam semesta yang kita lihat ini Adalah alam semesta
yang Abstrak artinya dapat dilihat dan dirasakan. Dan alam semesta yang tak terlihat
adalah manusia itu sendiri,
Untuk masalah otak saja manusia
sudah hampir bingung untuk menghitung berapa banyak kapasitas yang bisa
ditampung oleh otak manusia , baru- baru ini ilmuan telah mempelajari otak
manusia dan ditemukan bahwa Andai kata seluruh komputer yang ada dimuka bumi
ini ditumpuk- tumpuk sampai menjulang tinggi kelangit , itu juga tidak akan
mampu menandingi otak manusia, itu baru masalah otak, belum lagi masalah jasad
dan ruh. Tubuh manusia yang mempunyai jutaan sel- sel penghubung saraf- saraf
yang semua mempunyai kapasitas yang berbeda – beda, bisa Anda bayangkan diri Anda ternyata
mempunyai potensi yang luar biasa. Itulah sebabnya Tuhan memilih kita untuk
menjadi Khalifah fil Ardi dimuka bumi ini. Sebuah riwayat yang bisa kita petik
dari cerita penciptaan awal manusia yaitu :
Pada
suatu ketika Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat Jibril supaya turun ke bumi
untuk mengambil sebahagian tanahnya untuk dijadikan bahan mencipta Adam. Namun
ketika tiba di bumi, bumi enggan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam, hingga
bumi bersumpah, demi Allah ia tidak akan rela sebahagian tanahnya dijadikan
Adam. Kerana ia bimbang kelak Adam
akan berbuat maksiat kepada Allah.
Lalu
Jibril kembali ke hadirat Tuhan, ia tidak dapat berbuat apa-apa apabila
mendengar sumpahnya bumi. Kemudian Allah menitahkan malaikat Mikail turun pula
ke bumi dengan maksud yang sama, namun setelah mendengar perkataan bumi seperti
apa yang dikatakan kepada Jibril, Mikail pun tidak dapat berbuat apa-apa,
kembali ke hadrat Allah dengan tangan hampa.
Akhir
sekali Allah menyuruh Malaikat Izra'il turun ke bumi untuk mengambil tanah.
Kata Allah: "Hai Izra'il engkau kini Aku tugaskan mengambil tanah.
Meskipun bumi bersumpah-sumpah dengan ucapan bagaimanapun, jangan engkau undur.
Katakan bahawa kerjakan atas perintah dan atas nama-Ku."
Setelah
Izra'il tiba di atas bumi, dia berkata: "Hai bumi, ketahuilah kedatanganku
ke mari atas perintah Allah dan atas nama Allah. Jika engkau membantah atas
pekerjaanku ini, bererti engkau membantah perintah Allah dan tentunya engkau
tidak ingin menjadi makhluk yang durhaka kepada Allah, bukan?".
Mendengar
perkataan Izra'il, maka bumi tidak dapat berkata apa-apa kecuali membiarkan
Izra'il mengambil tanahnya dengan tidak banyak reaksi. Setelah Izra'il
mengambil beberapa jenis tanah, kembalilah dia ke hadrat Illahi.
Kata
Allah: "Ya Izra'il, pertama engkau yang Aku tugaskan untuk mengambil
tanah, dan kemudian di belakang hari kelak engkau pula yang Aku tugaskan untuk
mencabut roh manusia."
"Jika
demikian hamba bimbang yang hamba ini akan jadi dibenci anak Adam kerana
pekerjaan hamba ini," kata Izra'il.
"Tidak,"
jawab Allah: "Tidak mereka akan memusuhi engkau. Aku yang mengaturnya.
Lalu Aku jadikan sebab-sebab untuk mendatangkan kematian mereka. Sebab
terbunuh, sebab terbakar, sebab sakit dan sebagainya."
Mengikut
keterangan para Ulama bahawa tanah-tanah itu adalah seperti berikut:
01.
Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Muqaddis
02.
Tanah Bukit Tursina
03.
Tanah Iraq
04.
Tanah Aden
05.
Telaga Al-Kautsar
06.
Tanah tempat bakal berdirinya Baitullah
07.
Tanah Paris
08.
Tanah Khurisan
09.
Tanah Babylon
10.
Tanah India
11.
Tanah Syurga Firdaus
12.
Tanah Tha'if
Kata
Ibnu Abbas:
*
Kepala Adam dari tanah Baitul Muqaddis, kerana di situlah berada otak manusia
dan di situlah tempat akal.
*
Telinganya dari tanah Bukit Tursina, kerana ia alat pendengar tempat penerima
nasihat.
*
Dahinya dari Iraq, kerana di situ tempat sujud kepada Allah.
*
Mukanya dari tanah Aden, kerana di situ tempat berhias dan tempat kecantikan.
*
Mata dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat untuk menarik perhatian.
*
Giginya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat untuk memanis-manis.
*
Tangan kanannya dari tanah ka'abah, untuk mencari nafkah dan kerja-kerja sesama
manusia.
*
Tangan kirinya dari tanah Paris, tempat beristinjak.
*
Perutnya dari tanah Khurasan, tempat lapar dan haus.
*
Kemaluannya dari tanah Babylon. Di situ tempat sex (berahi) dan tipu daya
syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
*
Tulang dari tanah Bukit Tursina, alat peneguh tubuh badan.
*
Dua kakinya dari tanah India tempat berdiri dan berjalan.
*
Hatinya dari tanah syurga Firdaus, kerana di situ tempat iman, keyakinan, ilmu,
kemahuan dan sebagainya.
*
Lidahnya, dari tanah Tha'if tempat mengucap kalimat syahadat, bersyukur dan
berdoa kepada Tuhan.
Sungguh luar biasa memang proses
penciptaan manusia ini, ketika Tuhan ingin menciptakan manusia semua melalui
proses yang sangat menakjubkan, sudah sepantasnyalah kita menyadari dan
bersyukur karena kita tak pantas berbangga diri dengan dengan apa yang kita
miliki sekarang karena pada hakikatnya semua yang ada pada kita adalah apa yang
ada di bumi ini.
2
ANTARA BENAR DAN SALAH
Suatu
ketika pernah ada seorang teman bertanya pada saya “ mengapa yang benar
disalahkan dan yang salah dibenarkan?” jawaban saya singkat saja karena benar tidak mau menyalahkan yang salah dan
yang salahlah yang selalu menyalahkan yang benar. Begitulah jikalau kita tidak
memahami betapa penting arti sebuah kebenaran, seperti yang kita ketahui di
Negara tercinta kita ini. Banyak sekali kasus yang sudah nyata- nyata ia
bersalah masih juga ada pembelaan demi kepentingan pribadi. Rasa- rasanya kita
kembali kezaman zahiliyah, tapi kali ini saya menyebutnya dengan zaman
jahiliyah modern. Kenapa bisa demikian? Ternyata pada zaman Jahiliyah manusia
lebih mengedepankan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan
bersama. Mereka mempunyai kebiasan yang buruk, apabila saudara mereka yang
bersalah mereka bersusah payah untuk membantu agar tidak tersalahkan, dan
apabila mereka yang benar sudah barang tentulah yang salah makin terzolimi.
Dan
ternyata kita kembali lagi kezaman jahiliyah tersebut dimana manusia lebih
mengedepankan kepentingan pribadinya dibanding dengan kepentingan orang banyak,
banyak orang- orang pintar, tetapi ternyata hanya pintar membohongi, pintar
berdalih, pintar merekayasa yang pada akhirnya membuat terobosan- terobosan yang
salah dan keliru yang hanya membuat
orang- orang kecil tambah kecil , orang lemah tambah lemah dan semakin tak
berdaya.
Sebaris firman Allah mengingatkan kepada kita
dalam surat Al-isra 7 yaitu: “ Jika
kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan Jika kamu
berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…….(QS. Al- Isra’:17: 7)”
Sudah pastilah jika kita menabur kebaikan
pasti Allah akan membalas dengan kebaikan
dan sekiranya kita menabur kejahatan maka tunggulah badai kejahatan akan
kau tuai juga. Mungkin tidak hari ini balasan itu kita dapat, tapi yang
pastinya sekecil apapun perbuatan baik buruk kita pasti ada imbalannya,
berhati- hatilah dalam bertindak karena batas benar dan salah itu hanya setipis
kulit bawang yang jika kita tidak hati- hati maka sudah pastilah kerugian yang
ada.
Sering kali kita keliru dengan sebuah
keputusan yang manakah yang benar, dan manakah yang salah. Berada di antara dua
pilihan memang membingungkan, suara hati sering kali mucul bahwa inilah yang
benar, tapi benarkah demikian? Benarkah ini bersumber dari suara hati? Suara
–suara itu sekali lagi menggoyahkan pilihan kita, terkadang kita tidak tahu
mana yang suara hati dan yang mana bisikan saiton, jadi bagaimankah kita dapat
membedakan antara keduanya. Sekali lagi kekuatan imanlah yang akan berperan
dalam menentukannya, hidup adalah pilihan terserah apa pun yang akan kita pilih
dampak baik maupun buruknya kita sendiri yang akan mengalaminya.
Berbuat
sesuatu yang Anda sendiri tidak menyukainya bagai mana bisa itu Anda lakukan
kepada orang lain , artinya setiap perbuatan yang ingin kita lakukan hendaklah dipikirakan
terlebih dahulu, hendaklah dilandasi dengan nilai- nilai keimanan yan kokoh insya
Allah ,Allah akan senantiasa menuntun kita dalam pemilihan kehidupan yang benar
Allah akan menampakkan kepada kita bahwa
yang benar- itu benar dan yang salah itu salah . sekali lagi sentuhan iman akan
selalu mengiri langkah- langkah kita dalam menentukan pilihan hidup yang benar.
Jangan pernah berkata bosan dalam melakukan kebaikan, terus dan teruslah
berjuang demi kebaikan dirimu dan kebaikan sesamu. Allah maha mengetahui setiap
perbuatan hamba- hambanya dan Dia akan selalu ada disetiap langkah baik yang
kita lakukan. Ingat ! “Famayyakmal miskola zarrotin hoiroyyaroh
wamayyakmal miskola zarrotin sarroyyaroh”(Qs.Alzalzalah:99:7-8)
Ada sebuah ungkapan mengatakan ‘’ Hidup
ini tidak Adil “ bahkan ada teman saya dengan candanya mengatakan “ zaman
sekarang ini zamannya orang yang berkuasa alias zaman edan, yang kaya tambah
kaya yang miskin makin menderita”. Secara kenyataan mungkin memang demikian.
Tapi benarkah demikian? jangan terlalu banyak menyalahkan nasib, jangan terlalu
banyak menyalahkan pemerintahan yang tidak adil, pernahkah kita menyalahkan
diri kita sendiri? Ketidak adilan mereka tidak harus menjadikan diri kita
lemah, kekayaan mereka tidak harus melemahkan kita untuk berbuat lebih banyak, ingatlah yang Maha Kaya, yang
Maha Adil selalu bersama kita. Pahamilah kehidupanmu dengan melakukan hal- hal
yang mendatangkan kebaikan dan bukan keburukan. Sebuah gambaran cerita yang
berjudul “Tak sejahat Firaun”
Khalifah Al-Makmun memang kurang disukai oleh
rakyatnya. Banyak ulama dan orang salih yang memusuhinya. Bahkan sejarah
mencatat beberapa nodahitam dalam masa pemerintahannya.
Oleh
kerana itu, acap kali mimbar-mimbar agama dimanfaatkan oleh para mubalig untuk
menyerukan masyarakat agar lebih bersungguh-sungguh melawan kemungkaran dan
kezaliman para penguasa. Namun sejauh itu, tidak ada yang berani
menunjuk hidung dan dengan terang-terangan mencacinya.
Pada suatu Jumaat, Khalifah
Al-Makmun mengunjungi Bashrah. Ia ikut sholat di masjid agung kota kelahiran
Imam Hasan Al-Bashri itu. Tiba-tiba sang khatib dalam khutbahnya menyebut
namanya dengan nada tidak sopan dan membongkar serta menuduh
keculasan-keculasan secara kasar. Khalifah mengelus dada. Siapa tahu khatib itu
cuma terbawa emosi akibat hawa panas yang sedang menyengat seluruh negeri?
Kali yang lain, ketika Khalifah
menjalankan sholat jumaah di mesjid yang berbeza, kebetulan khatibnya sama,
seperti pada waktu ia bersembahyang di masjid agung Bashrah. Dan khatib itu mengulangi kembali makian serta
kutukan-kutukannya kepada Al-makmun. Di antaranya sang khatib berdoa,
"Mudah-mudahan Khalifah yang sewenang-wenang ini dilaknat oleh Allah
s.w.t." Maka habislah kesabaran Al-Makmun. Khatib itu diperintahkan untuk
datang menghadap ke istana. Setengah dipaksa, khatib tersebut akhirnya mahu
juga mengunjungi Khalifah.
Kepada
khatib yang keras itu Al-Makmun betanya, "Kira-kira, manakah yang lebih
baik, Tuan atau Nabi Musa?" Tanpa berfikir lagi, sang khatib yang galak
itu menjawab, "Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya. Tuan pun
tahu bukan?" "Ya,ya. Saya fikir begitu," sahut Al-Makmun.
"lalu, siapakah menurut pendapat Tuan yang lebih jahat, saya atau
Firaun?" Disini sang khatib terperangah. Ia sudah boleh menduga kemana
tujuna pertanyaan itu. Namun ia harus menjawab sejujurnya. Maka ia lantas
berkata, "Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada Tuan."
Al-Makmun
kemudian menegur, "Maaf, Tuan. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya
Firaun, sampai ia mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa,
malah telah menebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah
beserta susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah
lembut kepada si zalim itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya
perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran tersebut?"
Tergagap-gagap sang khatib
membacakan surah Thoha ayat 44 yang artinya: "Berikanlah, hai Musa dan
Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus,
mudah-mudahan ia mahu ingat dan menjadi takut kepada Allah."
Khalifah Al-Makmun tersenyum sebelum
dengan tegas bertitah,"kerana itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan
untuk menegur saya dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata
krama? Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan saya tidak sejahat Firaun?
Ataukah barangkali Tuan mempunyai Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha
itu?"
Khatib tersebut tidak boleh menjawab
sepatah pun. Hatinya tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk Al-Makmun dengan
kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat
Al-Quran harus dipegang. Kerananya, sejak saat itu ia berkhutbah dengan nada
yang berubah dan isi yang lebih menyentuh. Terbukti, dengan cara itu, makin
banyak masyarakat yang terpikat dengan pengajaran-pengajarannya, lalu berbalik
langkah dari dunia hitam yang penuh maksiat, untuk bertaubat melaksanakan
ibadah yang lebih taat.
Melalui
mimbar-mimbarnya, ia sudah berani lantang mengutip surah An-Nahl ayat 125 yang
berbunyi : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang
baik, dan berhujahlah kepada mereka dengan landasan yang lebih mendalam."
Nyatanya,
acap kali manusia dapat menggali mutiara dari lumpur laut yang hitam legam.
Sebab dari seekor ular yang berbisa dan menjijikkan, keluarlah berbutir-butir
telur yang halal dimakan. Maka patutlah apabila Sayidina Ali bin Abi Thalib
pernah berpesan, "unjur
ma qola wala tanjur manqola “... lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang
mengatakan."
Benar
dan salah itu adalah dua sisi yang bersamaan, benar muncul karena ada kata
salah dan salah muncul karena ada kata benar, tidak akan benar sesuatu itu jika
tidak dimulai dari kesalahan, orang bijak berkata “ lebih baik salah karena
banyak bertindak dari pada diam tak
melakukan Apa- apa. Pertanyaannya adalah hal apakah yang seharusnya kita
lakukan agar tidak selalu mengalami kesalahan? Bagaimankah menyikapi hidup yang
serba salah? Adakah hal- hal yang seharusnya dimaklumi? Jawaban sederahanya
adalah hidup itu harus punya tuntunan, Hidup itu harus punya Tujuan/ arah (
Life must have a purpose ). Anda pernah mengalami kesalahan?
berbahagialah karena dengan kesalahan itu akan ada kebenaran, Anda yang pernah
sering Kali melakukan kesalahan? bersyukurlah karena dengan kesalahan itu Anda
akan menjadi bijak dalam menentukan langkah-langkah berikutnya, Anda yang
selalu melakukan kesalahan? mulailah intropeksi diri karena dengan demikian
Anda akan menjadi orang yang benar. Jangan pernah takut untuk melakuakan sesuatu, jangan pernah takut melakukan
kesalahan karena itu semua adalah awal dari kebenaran.
Tuhan
pun akan memakluminya jika kita tahu kesalahan kita, dan segerahlah perbaiki
diri melakukan terobosan- terobosan baru kearah kebaikan dan kebenaran. Yang
terpenting adalah kita mau menyadari dan mau berbenah diri atas kesalahan yang
kita lakukan. Bukan tidak mungkin gunung dapat di pindahkan, bukan tidak
mungkin lautan dapat di taklukan semua itu terlaksana jika kita paham arti
sebuah MEMULAI, dan permualaan itu pasti mempunyai kesalahan walaupun hanya
sedikit. Tidak semua yang kita lakukan harus benar tapi yang terpenting adalah
seberapa besar kemauan kita untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata,
"Pada suatu malam setelah salat Isya saya keluar bersama Rasulullah s.a.w.
Tiba-tiba di hadapanku ada seorang wanita bercadar yang sedang berdiri di tengah
jalan, seraya berkata, "Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya aku telah
melakukan perbuatan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk
bertaubat?" Lalu saya tanya wanita itu, "Apakah dosamu itu?" Dia
menjawab, "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina
itu." Kukatakan padanya, "Kau telah binasakan dirimu dan telah
binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertaubat bagimu."
Mendengar jawapanku, wanitu itu menjerit histeris dan jatuh pingsan. Setelah
siuman dia pun lantas pergi. Aku berkata di dalam hati, "Aku berfatwa,
padahal Rasulullah s.a.w. ada ditengah-tengah kami?"
Pada
pagi harinya aku menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah! Tadi
malam ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku berkenaan dengan ini…. dan ini…."
Setelah mendengar penjelasan aku, beliau bersabda, "Innaa lillahi wa inna
ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah
kau ingat ayat ini :
"Dan
orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang
benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia
mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya
pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqaan: 68-70)
Maka
aku keluar dari sisi Rasulullah s.a.w. dan berlari menyusuri gang-gang jalan
Madinah, sambil bertanya-tanya, "Siapakah yang boleh menunjukkan aku
kepada seorang wanita yang meminta fatwa kepadaku tentang begini dan begini
tadi malam?" Sementara anak-anak bersorak, "Abu Hurairah sudah
gila!" Hingga menjelang larut malam, baru aku menemukannya di tempat itu.
Maka kuberitahukan segera kepada wanita itu seperti apa yang dikatakan
Rasulullah s.a.w. bahawa dia boleh bertaubat. Wanita itu kembali menjerit
kegirangan seraya berkata, "Kebun yang kumiliki akan kusedekahkan kepada
orang-orang miskin kerana dosaku."
Benar
dan salah itu Anda yang menentukan, pantas atau atau tidak adalah kepuasan Anda
dalam berbuat, dalam menjalani hidup banyak pilihan dan hidup ini di sertai
dengan kebenaran dan kesalahan yang terpenting Adalah bukan Anda tidak pernah
bersalah tapi yang terpenting adalah bagaiman Anda menyikapi, memperbaiki dan
berintropeksi diri dari kesalahan yang telah kita lakukan, mudah – mudahan
Allah selalu membimbing kita dalam perbaikan diri menuju kebenaran.
3
HAQQUL YAKIN
Setiap
yang bergerak di Alam semesta ini tidak pernah luput dari pandangan Allah
bahkan sebutir atompun bergerak karena kehendak-Nya, hidup ini telah ditentukan
oleh sang Maha pencipta, langakah, rezeki, pertemuan dan kematian semua telah
ditetapkan oleh-Nya, kita tidak perlu takut untuk mencari apa yang telah Allah
tebarkan dimuka bumi ini, kita tidak perlu takut tentang rezeki yang ada,
jangankan kita yang mau berusaha cacing dalam tanahpun mendapat rezeki dari Allah, bahkan mahluk
yang sama sekali tidak bisa apa- apapun itu pasti mendapat rezeki dari Allah.
Mengapa banyak orang takut kalau- kalau dia tidak kaya? Banyak orang takut kalau
dia jadi miskin emang apa bedanya antara kaya dan miskin? Bukankah semua manusia sama di hadapan- Nya yang
membedakan hanyalah ketaqwaannya saja. Terkadang kita tidak pernah yakin dengan
apa yang kita usahakan sehingga muncullah hal- hal yang meragukan diri dan khawatir kalau- kalau yang kita lakukan
tidak berhasil, kalau- kalau yang kita harapkan tidak terlaksana, yang pada
gilirannya akan menumbuhkan sikap pesimisme dan sering sekali menyalahkan nasib
kenapa begini dan kenapa begitu.
Sebuah hikayat: Ibrahim bin Adam adalah
seorang yang berlebihan dalam soal berpakaian dan konon dia mau bertaubat
karena seperti cerita berikut: pada suatu hari ia pergi berburu ditengah-
tengah perjalanan Ia beristirahat untuk menikmati makanannya. Untuk itulah
dihamparkannya tikar untuk makan. Setelah makanan tersedia diatas tikar tiba-
tiba datanglah seekor gagak yang sempat menggondol rotinya. Roti di bawa
terbang diangakasa. Ia heran dan segera mengambil kudanya untuk mengejar burung
tersebut. Namun sewaktu burung gagak dikejar, ia sempat terbang keatas gunung
dan kabur dari pandangan pemburunya, dan sebaliknya dengan Ibrahin bin Adam
rupanya tidak putus asa. Ia segera mendaki gunung dan tetap mengejar burung
gagak, namun dari kejauhan saja ia tak pernah pudar dari semangatnya. Dia berusaha
mendekati burung pencuri makananya itu.
Akan
tetapi ketika ia mendekati burung itu, burung itu terbang, Ibrahim bin Adam
terus mengejarnya kembali,
Dan
pada akhirnya setelah berusaha mengejar, ia bertemu seorang yang lagi
terlentang dan terjerat. Kemudian ia turun dari kudanya dan menolong orang itu.
Ia bertanya tentang dirinya kenapa bisa sampai demikian.
Orang
itu pun bercerita: “ Aku adalah seorang pedagang yang baru kali ini dihadang
oleh penyamun. Mereka berhasil merampas semua hartaku, bahkan mereka malah
menjeratku yang akhirnya aku dibuang disini. Aku disini sudah enam hari. Tapi
setiap hari aku selalu diberi makan oleh seekor burung gagak yang hinggap
didadaku dengan membawa roti yang dipotong- potong dengan paruhnya untuk
dimasukan kedalam mulutku. Jadi selama aku disini tak pernah dibiarkan
kelaparan oleh Allah. Begitulah orang itu bercerita.
Selanjutnya
Ibrahim bin Adam mengajak orang itu ketempat dimana ia menghamparkan tikarnya.
Dengan
terjadinya peristiwa tersebut, akhirnya Ibrahim bin Adam bertaubat kepada Allah
dan menukar pakaiannya dengan pakaian yang sederhana. Disamping itu ia juga
memerdekakan budak- budaknya dan mewaqafkan harta- hartanya. Bahkan Ia pergi ke
Makkah dengan memegang tongkat tanpa
membawa bekal apapu juga. Namun meskipun demikian, dia juga tidak kelaparan,
hingga Ia bisa sampai ke Makkah dan bertemu Ka’bah.
Disinilah kita perlu memahami diri sebagai
seorang hamba. Haqqul yakinlah bahwa setiap yang ada semua telah ditetapkan
olehNya baik itu masalah rezeki, jodoh maupun kematian, yang terpenting adalah
kita mau menjalani proses- proses dalam menuju apa yang hendak kita tuju,
masalah berhasil atau tidak Allahlah yang mengabulkannya.
Setiap orang pasti pernah mengalami
kegagalan, baik itu dari segi pencapaian karir, ekonomi, belajar maupun yang
lainnya. Jangan jadikan kegagalan sebagai dalih untuk tidak berhasil, kegagalan
bukanlah akhir dari sebuah pencapaian tapi sebuah awal dari kesuksesan, orang
bijak berkata “kegagalan adalah hanya sebuah kesuksesan yang tertunda”. Proses
dalam mencapai kesuksesan diawali dengan niat yang kuat. Niat yang kuat akan
menumbuhkan keyakinan yang kokoh dan selanjutnya disertai dengan Tindakan yang nyata, yang saya gambarkan
dalam bentuk sederhana seperti berikut:

Menjalani hidup ini tanpa keyakinan akan
membawa kita kepada jurang kekhawatiran dan keragu-raguan. Hidup memang penuh
dengan tanda Tanya, sembari banyak kita lihat manusia yang bertingkah laku yang
bermacam- macam, baik dari segi kebiasaan maupun dari segi kebudayaan. Sewaktu
saya masih SMA saya pernah mempelajari ilmu Antropologi dan Sosiologi, ilmu ini
berkaitan dengan erat dengan social budaya cultural manusia , kalau dipisahkan
ilmu Antropologi lebih mengkaji tentang pola hidup kebudayaan dan kepercayaan
manusia, sedangkan Sosiologi lebih mengkaji tentang social kemasyarakatan. Yang
jadi pertanyaan saya pada waktu itu adalah kenapa ada manusia yang menyembah
batu, roh nenek moyang, pohon dan lain sebagainya dan kebiasaan- kebiasaan aneh
yang sebenarnya kalau dipikir secara logika itu tidak pantas untuk dilakukan,
bahkan sampai sekarang masih banyak kebiasaan- kebiasaan aneh tersebut, seperti
menganiaya dirinya sendiri, menindik hidung, menindik kelopak mata dan lain-
lain yang semuanya terlalu berlebihan, bahkan ada yang rela mati untuk disalib
sebagai bentuk perwujudan diri sebagai pengikut yesus kristus, dan semua itu
dilakukan atas dasar kesenangan masing- masing, sungguh mengherankan memang
jika kita lihat fenomena sekarang ini, banyak manusia melakukan prilaku
menyimpang yang semua itu dilakukan demi kepuasan diri mereka sendiri.
Pertanyaannya adalah kenapa bisa demikian?
Karena itulah bagian dari keyakinan manusia. Semua itu tidak bisa kita pungkiri
bahwa apapun itu pasti punya dasar masing- masing yang mengantarkan mereka
kepada perbuatan- perbuatan seperti itu. Itulah misteri kehidupan semua
dijalankan manusia berdasarkan keyakinan yang dipegangnya. Sekali lagi bahwa
keyakinanlah yang mengantarkan manusia kepada apa yang diinginkannya.
Jadi untuk masalah yang tidak benar saja
banyak manusia yang yakin untuk melakukannya apalagi Anda yang yakin dengan
jalan kebenaran pastilah harus yakin dalam mencapainya. Tidak perlu takut untuk
berbuat selagi itu benar lakukakanlah dengan sungguh- sungguh. Karena dengan
kesungguhan akan membawa keberhasilan. Sebuah cerita tentang Bilal bin rabbah
yang rela mati mempertaruhkan iman: Bilal (berkulit hitam) adalah di antara 7
orang yang pertama menzahirkan keIslaman secara terangan meskipun diancam oleh
kafir musyrik. Apabila mengetahui hambanya, Bilal telah memeluk Islam, tuannya
telah menyeksa Bilal dengan memakaikan baju besi dan kemudian dijemur di padang
pasir yang sangat panas. Ketika ditanya tentang pegangan agamanya, Bilal
tetap mengatakan 'Ahad! Ahad!' (Allah Yang Esa, Yang Esa).
Bilal
kemudian diseret hingga ke lereng-lereng gunung tetapi Bilal tetap
memperkatakan 'Ahad! Ahad!'. Imannya tidak bergoncang sedikitpun. Melihatkan
tidak apa perubahan berlaku dalam diri Bilal, mereka kemudian mempertingkatkan
seksaan dengan meletakkan batu besar di atas badannya yang terjemur di tengah
panasnya matahari. Namun tiada
ucapan lain yang keluar dari mulut Bilal kecuali 'Ahad! Ahad!' Bilal rela mati daripada menukar pegangan
agamanya yang haq kepada yang bathil.
Apabila Saiyidina Abu Bakar diberitahu
tentang seksa yang dialami oleh Bilal,
Abu Bakar terus berjumpa Umaiyah yang sedang menyeksa Bilal dan kemudian
meminta Bilal dibebaskan. Sebagai ganti Abu Bakar menyerahkan seorang hamba
hitam yang lebih kuat sebagai tebusan. Sebaik saja ditebus, Saiyidina Abu Bakar
pun membebaskan Bilal dari perhambaan.
Sebuah Moral
& Iktibar yang bisa kita ambil adalah bahwa :
* Haqqul yakinlah dalam melakukan sesuatu
kebenaran walaupun pahit kau rasa
* Iman yang kental dan pegangan aqidah yang kukuh
tidak dapat digugat sekalipun diseksa
dengan pelbagai seksaan.
* Kemanisan
iman yang kuat tidak ada bandingnya dengan dunia dan seisinya.
* Allah tidak melihat kecantikan fizikal seseorang
tetapi yang paling utama ialah kecantikan hati.
* Allah mempertingkatkan tahap atau derajat
keimanan seseorang, dengan mengenakan ujian dan cobaan.
* Bertambah
kuat iman seseorang, bertambah hebat ujian yang Allah kenakan kepadanya
* Ujian dan bala yang dikenakan ke atas seseorang
bukan bererti Allah membencinya, sebaliknya ia adalah satu rahmat untuk
meninggikan darjatnya di sisi Allah.
* Bala
sebenarnya bukan 'bala' tetapi adalah satu nikmat yang patut disyukuri.
* Kekayaan dan kesenangan hidup belum tentu
menjadi satu nikmat, bahkan ia satu cubaan/bala untuk menguji kita mensyukuri
nikmat Allah atau tidak.
Namun dalam pencapaian hidup yang benar
tidaklah mudah , semua harus dijalani dengan sebuah proses kesabaran dan
keikhlasan yang semuanya akan membangkitkan kekuatan – kekuatan yang tersembunyi
didalam diri manusia itu sendiri. Manusia hidup Jangan pernah bosan dalam melakukan
kebaikan semua yang Allah berikan adalah hasil dari perbuatan kita, sebab
–sebabnya adalah kita yang melakukan, akibatnya adalah Allah yang akan tunjukan
dari apa yang kita usahankan, Karena sesungguhnya Allah berkehendak atas dasar dan
prasangka hambanya. Jadi selalulah berprasangka baik kepada Allah. Insya Allah
kebaikan akan selalu menyertai kita.
4
BELENGGU
KEBENCIAN
Manusia adalah mahluk yang paling misterius, karena mempunyai karakteristik yang berbeda
–beda baik dari segi pola pikir maupun yang lainnya. Mengherankan memang kalau
dari sebuah kesuksesan akan ada sebuah kebencian, kalau dari sebuah kesalahan
akan ada kebencian yang berurat berakar alias dendam . Lidah memang tidak
bertulang, bisa berkata apa saja, semanis madu bahkan bisa sepahit empedu itu
lah lidah banyak orang sakit hati, benci bahkan sampai menjadi dendam yang
membara karena sebuah ucapan. Ucapan yang baik akan mendatangkan kebaikan , ucapan yang buruk akan mendatangkan keburukan,
karena setiap kata adalah Doa.
Namun sepanjang yang saya ketahui banyak
orang sakit hati karena sebuah ucapan, bahkan menjadi benci yang sampai berurat
berakar. Ada teman saya yang pernah mengisahkan hidupnya kepada saya , ia
bercerita kepada saya bahwa ia pernah melakukan kesalahan dalam berbicara
sampai akhirnya ia dibenci oleh temannya yang sebenaranya mereka adalah teman
akrab. Ia berusaha mengklarifikasi ucapannya tersebut dan berusaha meminta maaf
tapi apalah daya belenggu kebencian telah merasuk kedalam dadanya. Sehingga
jurang pemisah pun semakin renggang dalam persahabatan mereka. Akhirnya hanya
kata- kata maaf yang kurang ikhlaslah yang muncul tanpa mau memperbaiki
hubungan persaudaraan lagi. Itulah akibat
dari racun kebencian yang telah berurat berakar.
Padahal kita ini hanya manusia biasa yang
tak luput dari khilaf dan dosa, Allah saja yang kebesarannya meliputi langit
dan bumi dan seluruh alam semesta ini masih mau mengampuni hambanya yang
melakukan dosa besar sekalipun, tapi kenapa kita manusia mahluk yang begitu
lemah ini begitu egois tidak mau memaafkan sesamanya. Apakah kita lebih hebat dari sang maha
pencipta? Barang kali tidak, benci adalah racun vaksinasi yang begitu ampuh
dapat merusak sel- sel syaraf manusia itu sendiri ,itu adalah penyakit yang
dapat menyebabkan penyakit- penyakit lain muncul dalam diri manusia. Benci
adalah bagian dari ketidak senangan manusia terhadap apa yang telah membuatnya
sakit hati sehingga dapat berubah
menjadi dendam yang membara. Yang dapat juga Merubah manusia baik menjadi jahat
tanpa berpikir lagi benar atau salah yang terpenting baginya adalah
melampiaskan kebencian dan dendamnya itu walau dengan cara kotor sekalipun.
Banyak kisah yang mungkin kita alami atau
kita saksikan disekitar lingkungan kita. Mungkin kita tidak sadari bahwa
sebenarnya kebencian akan dapat menimbulkan penyakit batin bahkan juga penyakit
fisik yang akan menumbuh kembangkan penyakit yang ada. Ada sebuah kejadian yang
sangat menyentuh saya sehingga mendorong
saya untuk menuliskannya di buku ini. Cerita ini berawal dari sesorang yang
mempunyai kebiasaan baik dan buruk yaitu kadang sering bercanda kadang juga
sering meng hina, jika ia tidak suka kepada seseorang ia akan mengupat dengan
kata- kata yang menyakitkan, bahkan melakukan sesuatu yang itu dapat
menyinggung perasaan orang , singkat cerita dan wallohumua’lambisawab ia jatuh
sakit dan akhirnya ia meninggal dunia dengan berbagai penyakit yang sudah
dibilang komplikasi, itulah akibat penyakit hati yang terus disimpan yang
akhirnya membara menjadi bara api yang akan merusak sel-sel tubuh yang lain.
Hidup ini begitu singkat, mungkin paling
lama kita hidup 100 tahun dan itu sudah jarang sekali kita temui, tak perlulah
berbangga diri dengan apa yang kita miliki, semua itu hanya lah titipan, suatu
saat pasti diambil oleh pemiliknya, sadarkanlah diri kita bahwa kematian pasti
datang menjemput, tidak perlu menyimpan dendam, tidak perlu ber benci hati
kepada sesama, semua itu akan merugikan diri kita sendiri, biarkan lah orang
sukses kita tidak perlu beriri hati, kita harus bangga dengan kesuksesan orang
lain. biarkanlah orang lain menghina atau bahkan mencaci jikalau Allah masih
memuliakan , kita tidak akan terhina,
mengalah bukan berarti kalah tapi mengalah untuk menang. Ingatlah setiap
perbuatan pasti ada balasannya.
Santai saja dalam menjalani hidup ini
tidak perlu dendam tidak perlu iri hati, kepada orang yang berhasil, terkadang
manusia ini seperti SMS ( senang melihat orang susah, susah melihat orang
senang) ada saja yang tidak disenanginya dengan orang lain. Apalagi orang
itu orang yang maju. Berkata baik susah,
namun kalau berkata keburukan sangat antusias, bahkan sampai- sampai bangga
dengan keburukannya itu. Tidak sepantasnya kita bangga dengan keburukan yang
kita lakukan seharusnya kita mau berintropeksi diri dengan kesalahan- kesalahan
kita lakukan. Jangan terlalu sering memandang semut diujung lautan tetapi gajah
dipelupuk mata tidak kelihatan, jangan suka melihat- lihat kesalahan orang tapi
kesalahan diri kita sendiri kita tidak tahu.
Apapun yang ada didunia ini semua akan
binasa tak terkecuali, hanya Allah lah yang akan tetap berkuasa. Jadi tidak
pantas kita menyimpan dendam, benci dan iri hati. pantaskanlah diri untuk
menjadi manusia yang baik. Baik di mata Allah dan baik pula dimata manusia.
Sebuah cerita yang sangat berkesan
Saiyidina Usman bin Affan diangkat menjadi
Khalifah selepas Saiyidina Umar bin Khatab dibunuh oleh musuh dalam selimut
dari golongan kaum munafik. Ketika itu keadaan masih lagi dilanda pergolakan
dan keresahan. Dengan ketegasan sikap dan kebijaksanaan Saiyidina Usman suasana
pemerintahan dapat dikendalikan secara aman oleh Khalifah yang berjiwa lembut
itu. Ramai penganut agama lain datang berduyun-duyun masuk Islam. Salah seorang
daripadanya adalah seorang pemuda Yahudi dari Yaman yang bernama Abdullah bin
Saba'.
Namun
ternyata Abdullah bin Saba' mempunyai tujuan lain disebalik memeluk Islam. Ia
mengharapkan Khalifah selaku penguasa negara akan memberikan kehormatan
kepadanya. Maka berangkatlah Abdullah bin Saba' ke Madinah. Ia meminta izin
mengadap Khalifah. Setelah diperkenankan ia menyampaikan keinginannya agar
diberi kedudukan tinggi di salah satu jabatan terpenting dalam bidang apa saja.
Tetapi Saiyidina Usman menolak dan berkata "Aku hanya seorang pelayan
umat. Aku diangkat menjadi Khalifah bukanlah atas keinginanku bahkan atas
kesepakatan para sahabat yang lain."
Saiyidina
Usman berkata lagi "Tidakkah tuan tahu bahawa jabatan bukanlah satu
kehormatan tetapi merupakan satu amanah." sambung Khalifah lagi
"Apakah tuan sudah sanggup memikul amanah itu sedangkan tuan baru sahaja
memeluk Islam dan lebih daripada itu tidak layak sesuatu kedudukan diminta atau
diminati, kerana Allah jualah yang memberi atau mencabut kedudukan
seseorang."
Abdullah
bin Saba' keluar dengan perasaan gelap. Ia telah bersusah memeluk Islam dan
kemudian menempuh perjalanan yang jauh dengan harapan untuk memperolehi
sanjungan dan mendapat jawatan tinggi, tetapi ternyata hanya memperolehi
nasihat dan teguran. Semenjak dari itu Abdullah bin Saba' menyimpan dendam
kepada Khalifah, umat Islam dan agama Islam. Ia bertekad untuk membinasakan
umat Islam dan mengacaukan ajarannya.
Maka
Abdullah bin Saba' berkeliling kemana-mana dan berbisik-bisik sambil menabur
fitnah kepada orang ramai dengan berkata bahawa pewaris dan Khalifah yang sah
adalah Saiyidina Ali bin Abi Thalib. Sebahagian daripada mesyarakat telah
terpengaruh dengan hasutan tersebut sehingga mereka menubuhkan kumpulan yang
dipanggil Syiah Saba'iyah yakni kaum Syiah sekarang.
Bagitu busuknya fitnah yang disebarkan
oleh Abdullah bin Saba' sehingga ia berani berkata "Sesungguhnya yang
menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Thalib. Hanya kebetulan pada
ketika itu malaikat Jibrail sedang mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan
kepada Muhammad yaitu orang yang tidak berhak."
Mendengar
khabar beracun seperti itu Saiyidina Ali bin Abi Thalib sangat marah dan
tatkala beliau diangkat menjadi Khalifah keempat menggantikan Khalifah Saiyidina
Usman bin Affan atas perintahnya Abdullah bin Saba' diusir dari Madinah.
Itulah akibat dari sifat dengki dendam
yang membara sehingga membutakan mata hati , untuk melakukan apa saja yang
dapat merusak nilai dari kebaikan itu sendiri. Maka benci dan dendam adalah
racun vaksinasi yang harus dijahui sejauh- jauhnya. Karena tak pantas bagi kita
berlaku sombong dimuka bumi ini.
5
KEIKHLASAN
Suatu hari seorang bayi siap untuk
dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : "Para malaikat disini
mengatakan bahawa besok engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara
saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?
Dan
Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga
dan mengasihimu."
"Tapi
disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan
tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."
"Malaikatmu
akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan
kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."
"Dan
bagaimana saya boleh mengerti saat orang-orang bercakap kepadaku jika saya
tidak mengerti bahasa mereka ?" "Malaikatmu
akan bercakap kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar;
dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara
kamu bercakap."
"Dan
apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"
"Malaikatmu
akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."
"Saya
mendengar bahawa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"
"Malaikatmu
akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya."
"Tapi,
saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihatMu lagi."
"Malaikatmu
akan menceritakan padamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu
boleh kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di
sisimu."
Saat
itu Syurga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang
anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bolehkah
Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?
"Kamu
akan memanggil malaikatmu, Ibu."
Ingatlah selalu kasih sayang ibu,
berdoalah untuknya dan cintailah dia sepanjang masa.
Ketika saya menuliskan cerita ini saya
sempat menjatuhkan air mata, ternyata begitu ikhlas pengorbanan seorang ibu
kepada kita , merawat kita mulai dari kecil sampai dewasa, mulai dari tidak
tahu menjadi tahu, keikhlasan seorang ibulah yang telah membawa kita sampai
kedunia ini. Maka sudah sepantasnyalah kita membalas kebaikannya dengan
keihlasan pula.
Berbicara tentang ikhlas tidaklah semudah
apa yang kita ucapkan, sering kali kita berbicara, aku telah ikhlas
melakukannya, atau aku telah ikhlas dengan semua cobaan ini. Tapi benarkah
demikan? Benarkah ini bersumber dari hati yang dirasakan?. saya sempat bertanya
kepada senior saya, tentang perbedaan ikhlas, sabar, dan pasrah. Ia menjawab
kalau ihklas adalah sebuah kerelaan hati yang didasari keimanan yang kuat, sedangkan
sabar adalah bagian dari proses untuk peng ikhlasan itu sendiri, dan pasrah
adalah sesuatu yang bermakna negatif yang kalau diterjemahkan adalah ungkapan
menyerah dengan situasi yang ada. Jadi sebenarnya kalau kita aplikasikan dalam
dunia nyata ketiga hal tersebut sulit untuk dibedakan, yang mana keikhlasan,
yang mana, kesabaran, dan yang mana pasrah.
Bibir kita sering kali mengucapakan “
sudahlah ikhlaskan saja” benarkah demikian ? bukankah itu ungkapan untuk
menghibur diri kita sendiri? Atau sebuah ungkapan karena kita tidak sanggup
lagi menghadapi suatu masalah. Mungkin jawabanya bisa iya, bisa tidak
tergantung seberapa besar kepasrahan kita terhadap situasi tersebut. Tapi perlu
kita pahami bersama bahwa sekecil apapun perbedaan tersebut kita harus dapat
memilah, kapan kita harus berlaku ikhlas, kapan berlaku sabar, dan kapan pula
kita harus pasrah. Jangan jadikan keikhlasan dan kesabaran sebagai bentuk
kepasrahan diri karena tidak bisa menghadapi masalah lagi.
Ikhlas adalah keadaan dimana manusia zero
(kosong), dan itu sulit sekali diketahui oleh orang lain, mungkin hanya Allah
sajalah yang tau, sebagai contoh ” Dahulu ada seorang pelacur berjalan dipadang
pasir, ia melihat ada seekor anjing kehausan, lalu diambillah air memakai
sepatunya tersebut dan memberikannya kepada anjing tersebut. Singkat cerita
wanita tersebut tercatat sebagai penghuni surga karena telah memberikan air
minum kepada anjing tersebut. Kenapa bisa demikan? Karena ikhlaslah yang
meyertai perbuatannya sehingga seberapa besarpun dosa nya kalau dirinya telah
ikhlas, maka insya Allah akan terampuni oleh Nya, sepeti contoh sederhana:
Ikhlas adalah keadaan dimana manusia
zero(kosong) jadi dalam matematikanya: jika 0 x 100000000000 = 0, artinya
seberapa banyak apapun dosa manusia jika dikalikan dengan keikhlasan tadi maka
hasilnya akan terhapuslah semua dosa- dosanya. Dengan catatan pertaubatan dan ketahuidan
masih ada dalam hati dan percaya bahwa Allah maha pengampun lagi maha
penyayang.
Ikhlas bukan berarti pasrah atau menerima
sesuatu dengan apa adanya, tapi ikhlas adalah sebuah perbuatan yang dilakukan
dari hati yang paling dalam tanpa mengharapkan imbalan apapun dan hanya
mengharap ridho dari Allah swt.
Berbuat
sesuatu yang ikhlas memang tidak mudah,
tapi apapun alasannya kita harus belajar agar setiap perbuatan baik kita
hendaklah kita lakukan dengan didasari keikhlasan dengan demikian insya Allah
akan tampaklah cahaya iman seseorang. Adapun
hal yang perlu diperhatikan untuk belajar bagaimana keikhlasan itu akan menyatu
dalam hidup adalah seperti berikut:
v
Sadarkan lah diri Anda bahwa Sesuatu yang kita
miliki adalah hanya titipan semata yang dipercayakan Allah kepada Anda.
v
Ingatlah bahwa dengan keikhlasan yang tinggi
derajat manusia akan semakin tinggi.
v
Ikhlas adalah obat dari segala macam penyakit
v
Berbuatlah baiklah sesering mungkin dengan
paksaan dari dalam diri insya Allah lama- kelamaan itu akan terbiasa dan
menjadi keikhlasan dalam setiap perbuatan baik yang kita lakukan karena
keikhlasan itu akan terlahir dari sebuah kebiasaan yang terus menerus
dilakukan.
v
IKHLAS : adalah gamabran dari sebuah
- Ikhtiar
- Ketulusan
- Hati
- Landasan
- Amal
- Sabar
jadi Ikhlas adalah sebuah Ikhtiar yang didasari oleh ketulusan hati yang
berlandaskan dengan amalan-amalan yang sabar.
6
ILMU, IMAN DAN AMAL
Pada
bagian ini saya akan mengawalinya dengan sebaris firman Allah Swt Yang Artinya “
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-
orang yang berilmu beberapa derajat ( Almujadilah 11 ) ”
Ada
dua aspek yang dapat kita ambil dari ayat
diatas yang pertama adalah Beriman dan yang ke dua adalah Berilmu. Ilmu tanpa iman akan mati sedangkan iman
tanpa ilmu akan buta, selanjutnya tidak akan beramal.
Sewaktu saya masih kecil saya sempat berfikir
Siapa Allah itu, dimana Ia , seperti apa wujudnya kenapa harus menyembahnya,
kenapa harus solat, kenapa harus puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya. Pada
waktu itu saya hanya diajarkan oleh orang tua saya untuk mengaji, solat, puasa
dan belum tau apa itu iman, sehingga kapasitas dalam mengenal Allah hanya
sebatas keihklasan yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan.
Kemudian Seiring berjalannya Waktu saya
mulai mencoba mencari dan memahami apa yang menjadi dilema dalam hati saya pada
waktu itu , sampai pada saat selesai kuliah barulah jawaban jawaban dari
pertanyaan itu mulai saya pahami satu persatu. yang dulunya saya percaya dan
mengenal Allah hanya sebatas ikut-ikutan orang tua saja namun sekarang saya
sudah lebih tau dari apa yang selama ini tersembunyi. karena ilmulah yang mengantarkan
saya pada yang pemahaman itu, tanpa ilmu mungkin sampai sekarang saya masih
buta akan Allah SWT, pantaslah Nabi mengatakan ” tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang
lahat,” untuk apa? ya untuk memahami Allah dan isi Alam semesta ini yang
diciptakan oleh Allah SWT, dengan pahamnya kita insaya Allah kadar keimanan
kita akan bertambah dan akan semakin dekat dengan Sang Khalik sehingga dengan
demikian Amal perbuatan yang kita lakukan akan dilakukan dengan keihklasan yang
didasari oleh ilmu dan iman.
Iman akan semakin bertambah karena ilmu
yang kita pahami, ilmu juga akan menjadi bertambah ketika kita dapat
mengamalkannya, mengajarkannya kepada sesama, karena dengan ilmulah hidup
menjadi indah dan mudah, dengan iman yang benar hidup menjadi lebih terarah,
dan dengan amallah hidup akan menjadi berkah.
Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan
antara Ilmu, Iman dan Amal. Ilmu akan senanntiasa bermanfaat dan terarah ketika
didasari oleh iman yang tinggi, banyak orang memmpunyai ilmu yang banyak tapi
iman yang tidak kondusif dapat mengantarkan pemiliknya kepada kebebasan dalam
hal bertindak yang akan membawa kerusakan- kerusakan dimuka bumi ini, seperti
kita lihat dinegri Barat orang selalu mengedepankan ilmu pengetahuan tapai
tidak didasari akan ilmu keimanan sehingga yang terjadi adlah kerusakan dan
kesemenamenaan terhadap lingkungan dan kepada sesama. oleh karena itu sangatlah
penting mengedepankan nilai- nilai spritualitas keimanan yang senantiasa akan
menjaga kedamaian dan perbaikan nilai- nilai kehidupan.
Anda adalah manusia yang diciptakan untuk
menjadi Khalifah dimuka bumi ini, maka sudah sepantasnyalah Anda harus berilmu,
beriman dan beramal dengan nikmat- nikmat yang telah di anugrahkan oleh sang
Pencipta . Tidak ada batasan bagi kita untuk selalu belajar, dengan banyak
belajar niscaya rasa kekaguman terhadap apa yang kita temukan akan memmbawa
kita kearah perbaikan diri dan akan menambah keimanan dan menjadi bermanfaatlah
kita bagi alam semesta. karena sebaik- baik manusia adalah manusia yang paling
bermanfaat bagi sesamanya.
Sebuah cerita unik dan berkesan ” Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri
Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya
untuk mencari seorang Guru agama, siapapun yang boleh menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.
“Anda
siapa? Dan apakah boleh anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Pemuda
bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan
saudara.” Jawab Guru Agama. “Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang
pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” Jawab Guru Agama “Saya akan
mencuba sejauh kemampuan saya”
Pemuda
: “Saya punya 3 pertanyaan;
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan
kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api
kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat
syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.
Apakah
Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”
Tiba-tiba
Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan
kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama
“Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya kepada 3 pertanyaan yang
anda ajukan kepada saya”.
“Saya
sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. Guru Agama bertanya “Bagaimana
rasanya tamparan saya?”. “Tentu saja saya merasakan sakit”, jawab beliau. Guru
Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”. Pemuda itu
mengangguk tanda percaya. Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud
sakit itu!” “ Tak boleh”, jawap pemuda. “Itulah jawapan pertanyaan pertama:
kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Guru
Agama.
Guru
Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh
saya?”. “Tidak” jawab pemuda. “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima
sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. “Itulah yang
dinamakan Takdir” Terang Guru Agama.
Guru
Agama bertanya lagi, “Diperbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk
menampar anda?”. “kulit”. Jawab pemuda. “Pipi anda diperbuat dari apa?” “ Kulit
“ Jawab pemuda. “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Sakit.” Jawab pemuda.
“Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan
berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syaitan.” Terang
Guru Agama.”
Demikianlah cerita itu sebagai penutup
pada bagian ini semoga mdapat menggugah hati Anda dalam perbaikan ilmu, iman
dan amal.
7
HATI
Bagian ini adalah merupakan bagianakhir dari buku ini, sengaja saya paparkan di
akhir buku ini, karena supaya terkesan lebih menyentuh di hati para pembaca.
Hati adalah raja, bersih dari lahirnya
itulah fitrah yang kuasa bagi setiap manusia, itulah adalah sebuah sair lagu
yang sangat menyentuh karena sumber baik dan buruk manusia adalah bersumber
dari hati manusia itu sendiri , jika baik di hatinya baik pula amalannya, jika
buruk di hatinya buruk pula amalannnya .
Harapan
yang besar bersumber dari HATI. Dari ke enam bab diatas ternyata semua
bersumber dari hati kita yang apabila
kita dapat mengoptimalisasikannya dengan benar, saya yakin semua itu tidak akan
sulit untuk kita raih , kita laksanakan, dan kita amalkan adalah sangat berkesan
jika kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita sesungguhnya . karena
pengalaman hidup telah banyak mengajarkan kita kepada hal- hal yang sangat
mendesak, membingungkan , membahagiakan, sehingga pada akhirnya kita mulai
mencari arti dari hidup ini.
Siapapun
yang menjadikan dirinya penting, jati dirinya akan terbongkar dan mulai
bersosialisai kepada sekitar lingkungan yang insya Allah akan mengantarkan jiwa
kita kepada pencerahan yang hakiki . Hidup hanya sekali dan hidup adalah untuk
dinikmati jangan biarkan diri larut dalam kegemerlapan yang tidak berguna.
Totalitaskan diri dalam menjalankan sesuatu, ambillah hikmah dibalik setiap
kejadian yang kita alami. Setiap kejadian yang kita alami pasti ada pelajaran
yang bisa kita ambil untuk kita jadikan intropeksi diri dalam perbaikan menjadi
manusia yang paripurna.
Hatimu
adalah milikmu engkaulah yang mengendalikannya, engkaulah yang menjalankan baik
dan buruknya. Allah adalah pengendali hati setiap manusia, siapapun yang
dikehendakiNya akan mendapat Rahmat dan karunianya. seperti pada cerita
tersebut.
Diceritakan
oleh sebahagian orang salih:
Pekerjaanku adalah sebagai penolak
rakit di sungai, yakni aku memindahkan penumpang dari satu tebing sungai ke
tebingnya yang lain. Hal itu sudah ku lakukan sejak bertahun-tahun lamanya.
Pada suatu hari, datanglah seorang lelaki tua yang sangat bersinar-sinar wajahnya,
ia mendekatiku lalu memberi salam. Aku
pun membalas salamnya dengan baik.
"Tuan!"
berkata orang tua itu kepadaku. "Bolehkah tuan menyeberangkanku ke tebing
sebelah sana secara ikhlas lillahi ta'ala?"
"Boleh,"
jawabku. "Aku boleh membawamu ke sana dengan ikhlas, tanpa bayaran!"
Lelaki tua itu pun menaiki rakitku dan aku pun menjalankan rakit itu menuju ke
tebing yang sebelah. Saat tiba di tebing sana, orang itu berkata lagi:
"Tuan,
aku akan memberikan sesuatu kepada tuan, bolehkah tuan menjaganya?"
"Apakah
itu?" tanyaku kepadanya. "Hanya suatu bungkusan dan sebilah tongkat.
Apabila datang hari besok hampir waktu Zohor, tuan akan menemukan diriku mati
di bawah pohon itu," dia berkata begitu sambil menunjukkan pohon yang
dimaksudkan. Kemudian dia menyambung pesanannya lagi:
"Maka
mandikan dan bungkuslah aku dengan kain yang ada di bawah kepalaku, kemudian
sholatkanlah aku dan kebumikan aku di bawah pohon itu. Setelah itu ambillah
bungkusan ini serta tongkatnya lalu simpanlah dia baik-baik. Sewaktu-waktu
kalau ada orang yang memintanya berikanlah kepadanya!" pesannya dengan
sungguh-sungguh.
"Itu
saja pesananmu?!" tanyaku lagi, Dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah," kataku dengan penuh kchairanan. Malam itu aku tak dapat
tidur kerana terus memikirkan keadaan orang itu. Betulkah dia akan mati,
seperti yang dia katakan? Kalau tidak, buat apa aku memikul bebanan amanat ini!
Apabila menjelang pagi, aku segera pergi ke tempat rakitku untuk bekerja,
sambil menunggu waktu yang ditetapkannya itu.
Apablia
menjelang waktu Zohor, aku pun duduk termangu-mangu dan hatiku berdebar-debar.
Tiba-tiba aku terlena dan terus tertidur, dan baru bangun ketika waktu
menjelang Asar. Aku teringat akan janjiku kepada lelaki tua itu, dan aku
cepat-cepat menuju ke bawah pohon yang ditunjukkan kepadaku semalam. Ternyata
benar lelaki itu telah meninggal dunia di sana, dan wajahnya semakin
bersinar-sinar.
"Inna
Lillaahi Wa Innaa llaihi Raji'uun!" lisanku mengucap. Aku pun segera
menyelenggarakan mayatnya, memandikannya lalu membungkusnya dengan kain yang
diletakkan di bawah kepalanya yang baunya sangat harum sekali. Kemudian
mensholatinya dan menggali kubur di bawah pohon. Ternyata di sana telah
terdapat kuburan yang dibuat dari batu yang sangat halus sekali buatannya. Aku
masukkan jasad itu ke dalamnya, lalu menimbuni kubur itu dengan tanah, dan aku
ambil bungkusan serta tongkat titipannya dan menyimpannya di rumah.
Hari
itu, aku terpaksa bekerja sampai pagi untuk menggantikan masa aku gunakan untuk
menyelenggarakan pengebumian mayat lelaki tua tadi. Apabila menjelang fajar,
datanglah seorang pemuda kepadaku seraya memandangku dengan pandangan yang
tajam sekali. Setelah aku mengamat-amatinya, aku mengenalinya. la adalah
seorang pemuda yang biasa bermain sandiwara, dan biasa menyanyi dan menari. la
memakai baju yang tipis, sementara jari-jarinya penuh dengan pacar. Pemuda itu
mendekatiku seraya memberi salam. Aku membalas salamnya. la bertanya:
"Benarkah
tuan ini fulan bin fulan?" aku hairan bagaimana dia tahu namaku.
"Betul",
jawabku. "Jika demikian, di manakah amanat itu?"
"Amanat
apa?" tanyaku kembali.
"Sebuah
bungkusan dan sebilah tongkat," pemuda itu memberitahuku.
"Siapakah
yang memberitahukan hal itu kepadamu?"
"Aku
sendiri tak mengerti," jawabnya, "tapi tadi malam aku sedang di rumah
teman untuk meraikan pesta perkahwinan. Aku menari-nari serta menyanyi sampai
jauh malam dan aku pun tidur di sana. Tiba-tiba datang seorang yang tak ku
kenal membangunkanku seraya berkata:
"Wahai
pemuda, bangunlah! Ketahuilah bahawa Allah s.w.t. telah mematikan seorang
walinya, dan menjadikan dirimu sebagai gantinya. Nah pergilah sekarang juga dan
temui fulan bin fulan yang bekerja sebagai penolak rakit, dan ketahuilah bahawa
sesungguhnya wali Allah yang mati itu meninggalkan amanah untukmu, iaitu berupa
sebuah bungkusan dan sebilah tongkat."
Aku
benar-benar kehairanan mendengar penuturan pemuda itu, dan aku pun menyerahkan
kedua amanah itu kepadanya. la menerimanya lalu menanggalkan pakaiannya yang di
atas badan, kemudian mandi dan berwudhuk, lalu membuka bungkusan itu yang
ternyata di dalamnya ada sepasang pakaian, lalu memakainya, dan memegang
tongkat. Kemudian dia datang kepadaku seraya berkata:
"Terima
kasih kerana kau sanggup menjaga amanat ini, semoga Tuhan saja yang
membalasmu!"
Kemudian
pemuda itu pergi meninggalkanku. Ke mana dia pergi, aku pun tidak tahu. Di
sepanjang-panjang hari itu, aku terus memikirkan tentang pemuda itu, dan
bagaimana dia dengan kehidupannya yang lalai dan sia-sia boleh menerima amanat
wali yang mati itu. Bila aku merasa penat, aku pun tidur. Dalam tidurku itu aku
mendengar suatu suara yang mengatakan:
"Wahai
hamba Allah! Apakah engkau keberatan jika Allah berkenan melimpahkan kurnianya
kepada hambanya yang selalu membuat derhaka kepadaNya? Ketahuilah, bahawa Allah
berhak sepenuhnya untuk memberikan kelebihannya kepada sesiapa pun, takdirnya
adalah menurut iradatnya!"
Pada
masa itulah, aku terkejut dari tidurku, lalu bangun menangis sejadi-jadinya.
Dalam menangis itu aku bermohon: "Ya Allah! Berilah hambamu ini rahmat dan
belas-kasihmu! Berilah pertolongan untuk berbakti kepadamu, bersyukur atas
segala nikmatmu, dan bersabar atas segala cubaanmu! Amin".
Cerita diatas mengajarkan kepada kita tuk
tidak menganggap remeh iman seseorang walaupun bejat dihadapan banyak manusia ,
tapi ingatlah bahwa Allah maha pembuka rahmat kepada siapa saja yang
dikehendakinya. dengan demikian marilah kita tuk selalu berdoa” Wahai Allah zat
yang membolakbalikan hati manusia Tetapkanlah hatiku tuk selalu berada
dijalanMu yang lurus, dan bimbinglah hamba menuju RidhoMu.
Sebagai akhir dari buku ini saya berpesan
kepada kita semua bahwa :
v ketika kita sudah beriman hendaknyalah
diikuti dengan rasa keyakinan yang kuat karena sumber kekuatan adalah ketika
kita dapat mengoptimalkan rasa iman kita yang didasri keyakian yang bersumber
dari iman yang benar.
v Kebenaran pasti akan menang walupun harus
bermandikan darah sekalipun. tetaplah pada kebenaran wlaupaun itu menyiksa
batinmu. Ingatlah Allah tidak buta, Allah tidak tidak tidur Dia selalu
mengawasi setiap yang terjadi pada hambanya, jangankan sehelai daun yang jatuh
dari pohon , sebutir atompun yang
bergerak itu tidak luput dari pengamatan Allah. tetaplah sabar dalam melakukan
kebaikan dan menjalankan kebenaran. Karena semua itu akan indah pada waktunya.
v Haqqul yakin adalah kunci keberhasilan,
jangan ragu tinggalkanlah keraguan yang ada dalam diri, semua terjadi berkat
kekuatan keyakinan.
v Kebencian tidak akan mendatangkan
kebaikan, kebencian justru akan merusak sel- sel otak manusia itu sendiri yang
dapat menjadi racun vakisnasi negatif yang akan membuat bibit penyakit baru.
v Ikhlaslah dalam beramal, Karena keikhlasan
akan membawa keberkahan, dan serahkanlah semua pada yanga maha sempurna. Allah
swt tidak melihat seberapa besar nilai yang kamu berikan tapi seberapa besar
kamu dalam melakukannya.
v Dan untuk sampai kepada itu semua ,
hendaknya kita tuk selalu belajar; belajar dan belajar karena batasan untuk
menunutut ilmu tidak ada batasnya tuntututlah ilmu dari buaian sampai ke liang
lahat. dengan demikian iman akan bertambah, dan beramalpun semakin lebih
terarah yang insya Allah akan membawa berkah
v HATI Hidup harus ber Amal, Tetapalah
pada Islam. Karena
islam akan membawa hati anda menyelam lebih dalam tentang Anda dan Pencipta
Anda. Dunia pasti berakhir tuntunlah hati Anda kearah Sirotol Mustaqim.